Oleh : Ridwan Syawal
Perjalanan cintaku terhenti
saat kau tak lagi menulis skenario ceritanya
ku terhenti begitu saja
mengikuti garis cerita yang kau buat
darahku yang telah mengalir di tubuhmu
membuatku tak bisa melupakanmu
debaran jantungmupun juga terasa di tubuhku
seolah hanya ada satu jiwa yang terbelah menjdai dua
aku ingin kau mendengar suara hatiku
yang tiap saat memanggil dirimu
di tempat terindahmu saat ini
Sabtu, 26 Juni 2010
Selasa, 01 Juni 2010
LITTLE LOVE
Kedua bola mataku yang masih tertutup rapat,
seolah hanya kegelapan yang tersirat di dalamnya. Tiba-tiba, terdengar suara
keras yang berbunyi tepat di indra pendengaranku, aku mengangkat tubuhku dari
tempat yang begitu empuk dan nyaman. Hari ini adalah hari dimana aku harus
memulai hari yang baru, ini adalah pertama kali aku masuk disekolah yang baru,
aku pindah sekolah karena orang tuaku yang menginginkannya, hal itu dikarenakan
aku sangat malas belajar, aku hanya bisa menurut saja apa mereka mau.
Padahal disekolah ku yang dulu aku memiiki
prestasi yang luar biasa di bidang menulis dan hampir semua organisasi sekolah
aku ikuti dan semua perlombaan aku menangkan, sebagian orang berpendapat ini
adalah penyebab mengapa aku kurang di bidang keilmuan. Aku sangat aktif dalam
hal tulis menulis.
hari itu aku berjalan dengan penuh rasa gunda,
jantungku bergejolak bagaikan seseorang yang sedang memainkan drum dalam
hatiku, tetapi aku harus bisa membiasakan diri dengan suasana baru, saat
kutatap sekolah ku yang baru, rasanya aneh seakan aku masuk kedalam dunia lain
yang sebelumnya tidak pernah dihuni oleh siapapun. aku mencoba meyakinkan diri,
"Pasti Bisa". Aku melangkah dengan penuh keberanian, saat aku
memasuki gerbang sekolah, aku melihat wajah-wajah baru, semuanya tampak asing
bagiku, entah aku bisa cepat mendapatkan teman atau tidak.
Suara Bel sekolah berbunyi dan aku masih bingung
kelas yang aku tempati dimana, watu aku diberi tahu oleh kepela sekolahnya,
katanya aku di tempatkan di kelas XI ipa 2 mirip dengan kelas ku sebelumnya. ku
lihat seorang gadis yang sedang membawa buku dengan raut wajah yang indah,
kulit hitam manis, hidung mancung dan terlihat layaknya seorang yang berwawasan
lewat di depan ku, aku menyapanya "maaf kelas XI ipa 2 disebelah mana
ya?" dia langsung menunjukan kelasnya, ya, aku jadi terlihat bodoh
olehnya, ternyata tepat di depan mataku. tanpa sempat berterima kasih dia
langsung berlari masuk ke kelas itu, "ternyata dia di kelas yang
sama". aku mengetuk pintu kelas dan meminta izin masuk kepada guru yang
mengajar, untung gurunya baik, tidak sama seperti di pikiranku, guru yang
memiliki tanduk dan memegang tongkat berduri, serta ekornya yang panjang menari
kesana kemari, hehe... dia menyuruh aku memperkenalkan diri di depan, sebelum
aku duduk. “Perkenalkan nama aku Irwansyah Wardani biasa di panggil Dani, aku
tinggal di jalan april No. 29” tampaknya banyak yang kurang senang dengan aku,
tepatnya cowok-cowok yang ada disin, raut wajah mereka bagaikan ingin melahap
aku hidup-hidup.
Guru yang baik itu menyuruh aku duduk di kursi
kosong paling ujung belakang, “untung kursinya masih ada yang kosong”. Tanpa
kusadari ternyata aku duduk di dekat gadis yang tadi, orang yang memberitau aku
kelas yang aku tempati.
Aku langsung mengulurkan tangan dan berkata
“hey, Aku Dani, salam kenal, kamu siapa?” dia tidak menjawab dan bahkan tidak
menanggapi uluran tangan yang kuberikan, “Jutek” satu kata untuk gadis ini. Tak
terasa bel waktu istirahat berbunyi, semua orang keluar dari kelas. Tinggal aku
dan gadis yang di samping ku, aku coba dekati dia, dan mengajaknya ngobrol.. namun
dia tetap saja tidak merespon apa-apa, cukup kesal dibuatnya.
“Dring……” suara bel sekolah berbunyi lagi,
bertanda pelajaran telah berakhir dan waktunya pulang. Aku berjalan menuju
tempat parkir untuk mengambil motorku dan pulang kerumah, ditengah perjalanan
tanpa sengaja aku melihat gadis itu lagi, dia beranjak masuk kesebuah rumah
sederhana yang tidak begitu jauh dari sekolah, di depan rumah gadis itu
terdapat tokoh buku, mungkin itu tokoh buku miliknya. “ini kesempatan bagus
untuk bias mengenalnya”. Kemudian setiap pulang sekolah aku mampir untuk
membeli buku, dia tidak pernah mengeluarkan satu katapun kepadaku, dia hanya
membungkus bukunya dengan rapi dan memberikannya kepadaku, begitulah yang
terjadi setiap hari. Sikap dia di sekolah dan di rumah sama saja, jutek.
Setelah sebulan berlalu, aku tetap melakukan
kebiasaanku untuk membeli buku. Di rumah, buku-buku yang aku beli hanya aku
simpan di dalam lemari buku milikku, tanpa aku buka bungkusan yang melapisinya.
Tak satupun buku yang aku beli, ku baca, seluruh uang jajanku ke sekolah hanya
aku pakai untuk membeli buku. ya…. setelah beberapa lama aku terus menerus
seperti itu, aku memberanikan diri untuk menyimpan nomor handphon aku di sehelai
kertas yang aku sisipkan di uang pembayaran buku yang aku beli.
Setelah beberapa hari, Sesaat aku aku selesai
membeli buku lagi di tokoh buku miliknya, aku langsung pulang tanpa mampir di
tempat lain, speedo meter pada kendaraanku menunjukan angkah 110 km/h, di pikiranku
hanya ada gadis itu, sepertinya aku jatuh cinta kepadanya. Karena kurang
berkonsentrasi aku tidak melihat mobil BUS yang berada di depanku yang melewati
jalur pembatas sehingga mobil tersebut tepat berada di depanku. Kejadiannya
begitu cepat… sepeda motorku tabrakan dengan mobil bus tersebut. aku masuk
rumah sakit, dan tak seorangpun pihak sekolah mengetahui kondisi kritis yang
kualami..
Beberapa hari aku dirawat di rumah sakit, pihak
sekolah tidak dapat kabar mengenai kondisiku jadi teman-teman sekelasku juga
tidak ada yang tahu, handphon milikku berbunyi dan yang mengangkatnya adalah
mama, terdengar jelas dari suaranya kalau yang menelepon itu adalah seorang perempuan,
kata mama dia menanyakan keadaan ku… dan mengapa aku tidak pernah masuk
sekolah.. mama hanya member tahu keadaan aku sebenarnya dan memberi tau alamat
rumah sakit yang aku tempati.
Ke esokan harinya, setelah waktu pulang sekolah… mama
tidak datang menjenguk karena dia dan ayah harus keluar kota, rasanya sangat
sepi sendiri di dalam kamar rumah sakit yang luasnya hanya beberapa meter saja,
juga tidak ada hiburan apapun. bagaikan makan sayur tanpa garam… ya, hampa dan
membosankan. “tok, tok, tok” kedengeran dari luar, aku heran dan merasa
merinding, rasanya di balik pintu itu terdapat monster berambut merah yang
memiliki gigi taring panjang, khayalanku lagi. Aku hanya berkata “masuk,
pintunya tidak dikunci” Aku kaget dan tidak menyangka ternyata yang membuka
pintu adalah gadis sekelasku yang sangat misterius itu. “kamu? bagaimana kamu
bisa tahu aku disini?” dia menjawab “aku yang menelepon kamu kemarin” ini
adalah pertama kali aku mendengar suaranya, suaranya sangat lembut dan halus,
bagai alunan musik yang dimainkan bidadari dari langit “makasih kamu sudah mau
datang” dia hanya tersenyum menatap ku.
Tidak ada bahan pembicaraan, kami berdua hanya
terdiam… dan tiba-tiba dia bertanya “bagaimana dengan tawaranku?” aku bingung
tawaran apa yang dia maksud, bukannya ini adalah pertama kali aku dan dia
ngobrol, aku balas nanya “tawaran apa?” tanpa banyak ngomong dia langsung
memberiku se helai kertas yang bertuliskan “maaf aku orangnya pemalu, tidak
bisa ngomong langsung sama kamu, kenalin nama aku Ita, aku hanya ingin bilang
kalau aku suka sama kamu, sejak pertama kita bertemu” aku heran sekaligus
bingung aku merasa berada di surga tingkat tinggi yang di sekelilingku terdapat
bunga yang bermekaran, kupu-kupu yang beterbangan, alunan musik slow yang
merdu, ya kembali berhalusinasi. aku bertanya “kenapa kamu tidak memberi aku
surat ini dari dulu?” dia menjawab “sudah kok, aku menyipannya di setiap
bungkusan buku yang kamu beli, apa kamu tidak pernah membacanya?” he….., aku hanya
tertawa sambil menatapnya dan berkata “maaf, aku tidak pernah buka, semua buku
yang aku beli, aku hanya menyimpannya di dalam lemariku” karena satu-satunya
alasan kenapa aku membeli buku itu hanyalah ingin melihatmu. Kami berdua
tersenyum dan lanjut aku berkata “aku juga suka kok sama kamu, ya mungkin sejak
pertama kita bertemu juga”
Sejak saat itu kita berdua menjalani hubungan,
dan setiap hari saat ke sekolah aku menjemput dia dan berangkat bersama…
andainya dari dulu aku membuka semua bungkusan buku yang aku beli, Semuanya tidak
akanseperti ini, tetapi meski seperti itu aku merasa senang karena bisa bersama
dia pada akhirnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
Menu
INTRODUCCIÓN
Pengikut
http://www.facebook.com/mitchicimi